Mediajawa – Meski hari raya Idul Fitri masih beberapa waktu lagi, suasana produktif sudah sangat terasa di bengkel kerja Lapas Perempuan Kelas IIA Martapura. Pada Jumat (20/2), jajaran Kegiatan Kerja (Giatja) bersama para Warga Binaan mulai tancap gas memproduksi berbagai macam kue kering khas Lebaran guna memenuhi potensi permintaan pasar yang mulai meningkat.
Produksi perdana menjelang musim Lebaran 2026 ini berfokus pada tiga varian kue kering yang selalu menjadi primadona pelanggan, yakni Kacang Sembunyi, Kue Kacang, dan Kue Semprit. Dengan pengawasan ketat terhadap standar higienitas dan kualitas rasa, para warga binaan tampak terampil mengolah adonan di ruang produksi tata boga.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program kemandirian yang bertujuan untuk mengasah ketelatenan sekaligus melatih manajemen produksi bagi warga binaan dalam skala industri rumahan.
Kepala Seksi Kegiatan Kerja (Kasi Giatja), Rose Mery KD, menjelaskan bahwa dimulainya produksi lebih awal ini adalah strategi untuk menjaga konsistensi rasa dan memastikan stok tersedia tepat waktu saat pesanan mulai memuncak.
"Kami sengaja memulai produksi di bulan Februari ini agar pengerjaannya tidak terburu-buru, sehingga kualitas rasa dan kerapian kemasan tetap terjaga dengan baik. Untuk tahap awal, kami fokus pada Kacang Sembunyi, Kue Kacang, dan Kue Semprit. Kami ingin memastikan bahwa setiap toples yang keluar dari Lapas Perempuan Martapura memiliki standar mutu yang mampu bersaing dengan toko kue di luar sana," jelas Rose Mery KD.
Kegiatan ini disambut antusias oleh para warga binaan yang terlibat dalam tim produksi. R, salah satu warga binaan yang dipercaya menjadi bagian dari tim pembuat kue, mengaku bangga bisa berkontribusi dalam kegiatan produktif ini. Baginya, setiap adonan yang ia olah adalah tabungan ilmu untuk masa depannya nanti.
"Senang sekali rasanya bisa mulai memproduksi kue-kue ini lebih awal. Bagi saya, ini bukan sekadar tugas di Lapas, tapi kesempatan untuk benar-benar menguasai resep dan teknik yang benar. Harapannya, ilmu membuat kue kering ini bisa saya jadikan modal untuk membuka usaha sendiri setelah bebas nanti, apalagi kue-kue seperti ini pasarnya selalu ada," ungkap R dengan semangat sembari mencetak kue semprit.
Selain untuk memenuhi pasar internal dan eksternal, kegiatan produksi kue kering ini diharapkan menjadi bekal keterampilan nyata bagi warga binaan. Dengan terlibat langsung dalam proses produksi massal, mereka belajar tentang efisiensi kerja dan pentingnya menjaga kepercayaan konsumen melalui produk yang berkualitas.
- LPP Martapura




