MediaJawa — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kotabaru kembali melaksanakan program pembinaan kepribadian melalui kegiatan ibadah Salat Jumat berjamaah yang diikuti warga binaan di Masjid At-Taubah Lapas Kotabaru, Jumat (15/5). Pada pelaksanaan kali ini, khutbah Jumat disampaikan oleh petugas dari Kementerian Agama Kabupaten Kotabaru sebagai bagian dari sinergi pembinaan keagamaan bagi warga binaan.
Kegiatan berlangsung khidmat dan tertib, diawali dengan pelaksanaan Salat Jumat berjamaah, kemudian dilanjutkan khutbah yang mengangkat tema refleksi diri, kesabaran, dan pentingnya memanfaatkan masa pembinaan sebagai momentum memperbaiki diri.
Dalam khutbahnya, petugas Kementerian Agama menyampaikan bahwa setiap ujian hidup, termasuk menjalani masa pidana, harus dimaknai sebagai kesempatan untuk introspeksi dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.
“Setiap manusia memiliki ujian masing-masing. Masa pembinaan ini hendaknya dimanfaatkan untuk memperkuat iman, memperbaiki akhlak, dan menata kembali kehidupan ke arah yang lebih baik,” pesannya di hadapan jamaah warga binaan.
Ia juga mengajak warga binaan untuk tetap optimis, tidak larut dalam penyesalan masa lalu, serta menjadikan pembinaan sebagai sarana meningkatkan kualitas ibadah dan kedisiplinan hidup.
Kepala Lapas Kelas IIA Kotabaru, Doni Handriansyah, menyampaikan apresiasi atas dukungan Kementerian Agama Kabupaten Kotabaru dalam pelaksanaan pembinaan rohani di lingkungan Lapas.
“Kami terus berupaya memberikan pembinaan keagamaan secara berkelanjutan bagi warga binaan. Dukungan dari Kementerian Agama sangat penting dalam memperkuat mental, spiritual, dan pembentukan karakter positif warga binaan,” ujar Doni.
Sementara itu, salah satu warga binaan S mengaku mendapatkan motivasi dan penguatan melalui materi khutbah yang disampaikan.
“Khutbah hari ini mengingatkan kami untuk tidak menyerah dan tetap memperbaiki diri selama menjalani pembinaan,” ungkapnya.
Melalui kegiatan pembinaan keagamaan yang rutin dan kolaboratif, Lapas Kotabaru terus berkomitmen menghadirkan proses pemasyarakatan yang humanis, religius, dan berorientasi pada perubahan perilaku positif warga binaan sebagai bekal reintegrasi sosial.




