Kreatif Manfaatkan Bahan Tradisional: Warga Binaan Lapas Amuntai Olah Paya Jadi Pakan Bebek Berkualitas


MediaJawa — Paya merupakan bahan pakan tradisional yang berasal dari bagian dalam batang pohon rumbia atau sagu yang diolah dengan cara dicacah atau diparut. Bahan lokal yang dikenal masyarakat Kalimantan Selatan ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat dalam campuran pakan ternak, termasuk bebek.

Memanfaatkan potensi tersebut, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Amuntai terus mengembangkan program pembinaan kemandirian melalui Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE), salah satunya dengan mengelola pakan berbahan paya untuk mendukung peternakan bebek, Kamis (29/10).

Pengelolaan pakan paya menjadi salah satu upaya pemanfaatan bahan baku lokal untuk menunjang kebutuhan pakan ternak. Melalui kegiatan ini, warga binaan tidak hanya terlibat dalam pemeliharaan bebek, tetapi juga belajar mengenai pengolahan bahan pakan, pengelolaan peternakan, serta pentingnya efisiensi dalam kegiatan usaha peternakan.

Kepala Lapas Kelas IIB Amuntai, Gusti Iskandarsyah, menyampaikan bahwa kegiatan peternakan di SAE merupakan bagian dari komitmen Lapas dalam memberikan pembinaan keterampilan yang bermanfaat bagi warga binaan.

“Melalui kegiatan SAE, kami berupaya membekali warga binaan dengan keterampilan praktis yang dapat dikembangkan menjadi peluang usaha setelah mereka kembali ke masyarakat. Pemanfaatan pakan paya ini juga menjadi bentuk pemanfaatan potensi lokal untuk mendukung pengelolaan peternakan yang lebih efektif dan berkelanjutan,” ujar Gusti Iskandarsyah.

Dalam pelaksanaannya, warga binaan turut mempelajari proses pengolahan paya sebagai bahan pakan, mulai dari persiapan bahan hingga pencampuran dengan bahan pakan lain sesuai kebutuhan ternak. Pengelolaan pakan dilakukan dengan memperhatikan kebersihan bahan dan kecukupan nutrisi agar bebek dapat tumbuh dengan baik.

Salah seorang warga binaan yang terlibat dalam kegiatan tersebut, Hikri, mengungkapkan bahwa kegiatan ini memberinya pengalaman baru dalam bidang peternakan, khususnya dalam pengolahan pakan dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.

“Melalui kegiatan ini, saya belajar bagaimana mengolah pakan paya untuk kebutuhan bebek. Selain menambah pengetahuan dan keterampilan, kegiatan ini juga memberikan pengalaman yang bisa menjadi bekal bagi saya untuk mencoba usaha peternakan setelah selesai menjalani masa pembinaan,” ungkap Hikri.

Kegiatan pengelolaan pakan paya di SAE Lapas Amuntai diharapkan dapat mendukung keberlangsungan peternakan bebek sekaligus memperkuat pembinaan kemandirian warga binaan. Dengan pendampingan petugas dan keterlibatan aktif warga binaan, program ini menjadi salah satu langkah nyata dalam membangun keterampilan kerja, menumbuhkan tanggung jawab, serta mempersiapkan warga binaan agar lebih mandiri dan produktif ketika kembali ke tengah masyarakat.

Melalui pengembangan SAE, Lapas Kelas IIB Amuntai terus berupaya menghadirkan pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada keterampilan selama menjalani masa pidana, tetapi juga memberikan bekal yang berguna untuk kehidupan setelah bebas.
Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Kreatif Manfaatkan Bahan Tradisional: Warga Binaan Lapas Amuntai Olah Paya Jadi Pakan Bebek Berkualitas
  • Kreatif Manfaatkan Bahan Tradisional: Warga Binaan Lapas Amuntai Olah Paya Jadi Pakan Bebek Berkualitas
  • Kreatif Manfaatkan Bahan Tradisional: Warga Binaan Lapas Amuntai Olah Paya Jadi Pakan Bebek Berkualitas
  • Kreatif Manfaatkan Bahan Tradisional: Warga Binaan Lapas Amuntai Olah Paya Jadi Pakan Bebek Berkualitas
  • Kreatif Manfaatkan Bahan Tradisional: Warga Binaan Lapas Amuntai Olah Paya Jadi Pakan Bebek Berkualitas
  • Kreatif Manfaatkan Bahan Tradisional: Warga Binaan Lapas Amuntai Olah Paya Jadi Pakan Bebek Berkualitas