Iklan 1060x90

Memadukan Seni Kerajinan Tangan dan Budaya Lokal, Kerajinan Arguci LPP Martapura Jadi Program Unggulan Pembinaan

Hadi A.
Selasa, November 25, 2025 WIB Last Updated 2025-11-25T11:34:40Z

MediaJawa — Dalam upaya meningkatkan kualitas pembinaan dan pemberdayaan warga binaan, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Martapura secara konsisten melaksanakan kegiatan pembinaan kerajinan arguci. Kegiatan kerajinan arguci ini menjadi salah satu program unggulan dalam pembinaan kemandirian yang dilaksanakan oleh Seksi Kegiatan Kerja di bawah koordinasi dan pengawasan langsung Kepala Seksi Kegiatan Kerja (Kasi Giatja), Rose Mery Kusuma Dewi beserta jajaran yang secara aktif terlibat dalam seluruh proses kegiatan. 

Selaku Kalapas, Evi Loliancy mendukung penuh kegiatan kemandirian di Seksi Kegiatan Kerja, baik bidang manufaktur, Jasa maupun Agribisnis, termasuk didalamnya kerajinan Arguci.

“Pembinaan kerajinan arguci ini mengandung unsur budaya kearifan lokal Kabupaten Banjar, yang mana Arguci merupakan salah satu warisan budaya dari kesultanan Banjar. Kegiatan ini merupakan wujud komitmen kami mendukung program akselerasi Menteri Imipas yaitu mendayagunakan warga binaan untk menghasilkan produk UMKM,” Jelas Evi.

Evi menekankan pentingnya program ini sebagai bagian dari strategi pembinaan holistik di lingkungan Pemasyarakatan.

“Kegiatan ini juga bertujuan untuk membekali dan mendorong warga binaan dengan untuk memiliki keahlian yang bernilai ekonomi dan mendorong jiwa kewirausahaan. Selain itu, kegiatan ini juga membangun karakter positif, antara lain ketekunan, ketelitian, dan kedisiplinan,” Pungkas Evi.

Salah satu produk dari kerajinan arguci yaitu set sarung perlengkapan meja tamu yang terdiri dari sarung kotak tisu, sarung botol mineral, serta alas dan tutup gelas. Sebagai Kasubsi Bimbingan Kerja dan Pengelolaan Hasil Kerja ( Bimker dan Lohasilker), Subseksi yang bertanggung jawab atas inventarisir dan pengelolaan hasil pembinaan, Ida Nursanti mengungkapkan bahwa sudah banyak menerima pesanan dari instansi lain baik internal Pemasyarakatan maupun instansi eksternal seperti Dinas Daerah dan Provinsi. 

“Sudah lebih dari 20 set hasil kerajinan arguci yang kami jual, pemesan bisa dari UPT pemasyarakatan maupun dari Dinas-dinas. Hal ini dikarenakan penggunaan arguci pada perlengkapan meja dapat menambah nilai estetika bahkan menambah kesan kuat nilai budaya jika dilihat oleh tamu saat kita menyuguhkan misalnya botol minum dikasih sarung arguci, gelas beralaskan dan tutup dari arguci,” Jelas Ida.

Untuk set perlengkapan ini dijual dari harga Rp.550.000,-, terdiri dari 6 buah tutup gelas, 6 buah alas gelas, 1 buah sarung kotak tisu, dan 6 sarung botol mineral. Kerajinan arguci sendiri merupakan seni kerajinan tangan yang memadukan teknik menggulung dan menata benang atau pita untuk membentuk motif-motif dekoratif dengan sentuhan kearifan lokal Kesultanan Banjar. Dalam kegiatan pembinaan ini, warga binaan diperkenalkan pada berbagai tahapan kerja, mulai dari pengenalan alat dan bahan, teknik dasar penggulungan, teknik penyusunan pola, hingga proses finishing agar menghasilkan produk yang rapi, seragam, dan memiliki nilai estetika tinggi. 

Di bawah pendampingan intensif jajaran Seksi Giatja, warga binaan mendapatkan instruksi teknis serta bimbingan personal untuk memastikan mereka memahami setiap langkah proses pembuatan arguci. Setiap hari, peserta pembinaan terlihat aktif mengerjakan tugas, mempraktikkan teknik-teknik baru, serta memantapkan keterampilan yang mereka pelajari. Tidak hanya berfokus pada hasil akhir, kegiatan pembinaan ini juga menjadi wadah untuk membangun kemampuan interpersonal warga binaan. Mereka belajar bekerja secara terstruktur, menghargai waktu, serta membangun kebersamaan dan kerja sama antarsesama peserta. 

Suasana pembinaan berlangsung kondusif, penuh semangat, dan menunjukkan perkembangan kualitas karya dari waktu ke waktu. Lebih lanjut Ida menyampaikan bahwa keberlanjutan kegiatan pembinaan seperti kerajinan arguci sangat penting dalam mendukung visi Pemasyarakatan untuk membina warga binaan agar siap kembali ke masyarakat. 

“Kami berharap melalui keterampilan ini, warga binaan memiliki rasa percaya diri, tujuan, dan peluang ekonomi yang lebih baik. Program pembinaan ini merupakan salah satu langkah nyata dalam mengembalikan mereka sebagai individu mandiri dan produktif di lingkungan sosial,” tambahnya.

Kegiatan pembinaan yang dilakukan secara rutin dan terstruktur ini sejalan dengan arah kebijakan Pemasyarakatan yang mengedepankan pendekatan humanis, rehabilitatif, dan berorientasi pada pemberdayaan. Dengan memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk berkarya dan mengembangkan potensi diri, Lapas Perempuan Kelas IIA Martapura terus berupaya memberikan ruang positif dan konstruktif dalam masa pembinaan mereka.

Melalui pembinaan kerajinan arguci yang berlangsung intens setiap pekan, Lapas Perempuan Kelas IIA Martapura berharap dapat terus mencetak karya-karya kreatif sekaligus meningkatkan kapasitas warga binaan, sehingga ketika masa pidana berakhir, mereka mampu kembali ke masyarakat dengan bekal kemampuan yang bermanfaat dan masa depan yang lebih cerah.
Komentar

Tampilkan

  • Memadukan Seni Kerajinan Tangan dan Budaya Lokal, Kerajinan Arguci LPP Martapura Jadi Program Unggulan Pembinaan
  • 0

Berita Terkini

Iklan