Jakarta, Mediajawa.com - Pernah buka aplikasi belanja hanya untuk “lihat-lihat”, tapi lima menit kemudian malah sudah checkout? Atau awalnya cuma ingin scroll media sosial, lalu tiba-tiba merasa “butuh” barang yang bahkan sebelumnya tak pernah terpikirkan? Bagi Gen Z, situasi seperti ini bukan lagi hal aneh, melainkan bagian dari keseharian.
Di era serba digital, belanja bukan cuma soal kebutuhan, tapi juga hiburan, pelarian emosi, bahkan cara merayakan diri sendiri. Promo flash sale, diskon dadakan, gratis ongkir, dan fitur paylater membuat belanja terasa instan dan minim konsekuensi setidaknya di awal. Namun, ketika kebiasaan ini terus berulang dan sulit dikendalikan, belanja bisa berubah menjadi masalah kesehatan mental.
Kondisi tersebut dikenal sebagai Compulsive Buying Disorder (CBD), gangguan psikologis yang membuat seseorang terdorong untuk berbelanja secara berlebihan dan berulang. Isu ini semakin relevan di kalangan anak muda, seiring meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental. Dinas Kesehatan Jakarta pun menekankan bahwa pola perilaku sehari-hari, termasuk kebiasaan konsumsi, berperan penting dalam menjaga keseimbangan mental generasi muda.
Apa Itu Compulsive Buying Disorder?
Compulsive Buying Disorder adalah kondisi ketika seseorang memiliki dorongan kuat untuk membeli barang, meskipun tidak membutuhkannya atau tidak mampu secara finansial. Aktivitas belanja dilakukan sebagai respons emosional, bukan keputusan rasional.
Penderita CBD biasanya merasakan rasa senang, lega, atau puas saat berbelanja. Namun, perasaan tersebut cepat menghilang dan berganti dengan penyesalan, rasa bersalah, atau kecemasan. Siklus ini terus berulang dan dapat memengaruhi keuangan, hubungan sosial, serta kesehatan mental secara keseluruhan.
Mengapa Gen Z Rentan Mengalaminya?
-
Paparan Digital yang Sangat TinggiGen Z hidup berdampingan dengan media sosial, e-commerce, dan iklan digital yang bekerja secara personal. Algoritma mampu menampilkan produk sesuai minat, membuat godaan belanja terasa semakin relevan dan sulit dihindari.
-
Budaya FOMO dan Tekanan SosialKetakutan tertinggal tren atau dianggap tidak up to date mendorong keinginan untuk membeli barang tertentu. Belanja sering kali dilakukan demi validasi sosial, bukan kebutuhan pribadi.
-
Self-Reward sebagai Pelarian EmosiKonsep self-reward kerap dijadikan alasan untuk membeli barang saat lelah, stres, atau sedih. Sayangnya, jika dilakukan terus-menerus, belanja bisa menjadi mekanisme pelarian emosi yang tidak sehat.
-
Kemudahan Sistem Pembayaran DigitalFitur paylater, cicilan, dan dompet digital membuat transaksi terasa ringan karena tidak langsung terasa dampaknya. Hal ini berpotensi menurunkan kontrol terhadap pengeluaran.
-
Kemampuan Regulasi Emosi yang Masih BerkembangPada usia muda, kemampuan mengelola emosi belum sepenuhnya matang. Tanpa strategi coping yang sehat, belanja sering dijadikan cara instan untuk memperbaiki suasana hati.
Tanda dan Gejala yang Perlu Diwaspadai
-
Dorongan belanja yang sulit dikendalikan
Muncul keinginan kuat untuk membeli sesuatu secara tiba-tiba dan berulang, meskipun tidak ada kebutuhan nyata atau alasan mendesak. -
Belanja sebagai pelarian emosi
Aktivitas belanja sering dilakukan saat merasa stres, cemas, sedih, atau bosan, dengan harapan suasana hati membaik. -
Perasaan lega sesaat, diikuti penyesalan
Setelah berbelanja, muncul rasa senang atau puas yang singkat, lalu berganti dengan rasa bersalah, menyesal, atau khawatir terhadap pengeluaran. -
Membeli barang yang jarang atau tidak pernah digunakan
Banyak barang menumpuk tanpa fungsi jelas, bahkan masih dalam kondisi baru, karena dibeli secara impulsif. -
Menyembunyikan kebiasaan belanja
Mulai menutup-nutupi jumlah pengeluaran atau kebiasaan belanja dari keluarga dan orang terdekat karena merasa malu atau takut dihakimi. -
Masalah keuangan yang berulang
Sering kehabisan uang, bergantung pada paylater atau cicilan, dan kesulitan mengatur keuangan akibat belanja berlebihan.
Dampak Compulsive Buying Disorder bagi Kehidupan Gen Z
Dari sisi finansial, CBD dapat menyebabkan pengeluaran berlebihan, utang menumpuk, dan ketergantungan pada sistem cicilan. Secara psikologis, penderita rentan mengalami kecemasan, stres, hingga depresi akibat rasa bersalah dan tekanan ekonomi.
Hubungan sosial juga bisa terganggu, terutama ketika masalah keuangan memicu konflik dengan keluarga atau pasangan. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini berpotensi menghambat perencanaan masa depan, baik dalam pendidikan, karier, maupun stabilitas hidup.
Cara Mencegah dan Mengatasi Compulsive Buying Disorder
-
Membuat Anggaran dan Mencatat PengeluaranMengetahui ke mana uang digunakan membantu meningkatkan kesadaran dan kontrol terhadap kebiasaan belanja.
-
Menunda Pembelian ImpulsifMemberi jeda sebelum checkout dapat membantu membedakan antara keinginan sesaat dan kebutuhan nyata.
-
Mengelola Emosi dengan Cara SehatOlahraga, journaling, meditasi, atau berbicara dengan orang terpercaya bisa menjadi alternatif pelampiasan emosi yang lebih positif.
-
Membatasi Paparan Media Sosial dan Aplikasi BelanjaMengurangi waktu scrolling dan notifikasi promo dapat menurunkan dorongan belanja berlebihan.
-
Mencari Bantuan ProfesionalDinkes Jakarta mendorong masyarakat untuk tidak ragu berkonsultasi dengan psikolog atau konselor jika perilaku belanja mulai mengganggu kehidupan. Pendampingan profesional dapat membantu mengenali pemicu emosional dan membangun strategi pengendalian diri yang sehat.
Penutup
Belanja bisa menjadi bagian dari gaya hidup, tetapi ketika dilakukan tanpa kendali, dampaknya dapat merugikan kesehatan mental dan kondisi finansial. Compulsive Buying Disorder adalah masalah nyata yang perlu disadari sejak dini, terutama di kalangan Gen Z yang hidup di tengah arus konsumsi digital.
Melalui Dinkes Jakarta, masyarakat diajak untuk lebih peduli pada kesehatan mental dan berani mencari bantuan profesional jika diperlukan. Mengenali tanda-tanda awal, mengelola emosi dengan cara sehat, dan belanja secara bijak adalah langkah sederhana namun penting untuk menjaga keseimbangan hidup.




